BAB 14
P ERJALANAN Ainna dan Wildan hanya ditemani dengan gelak tawa dan bualan mesra DJ radio saja. Jam menunjukkan pukul 11 malam namun mata Ainna masih lagi segar memerhati suasana gelap di sepanjang jalan. Matanya menatap ke arah langit yang dihiasi bulan dan bintang-bintang. Dia mengeluh di dalam hati. ‘Langit yang gelap dan hitam sama seperti suasana hati aku. Rasa kosong dan tidak ada tujuan. Hanya menantikan munculnya matahari yang boleh menyinari suasana. Namun, dengan melihat bulan dan bintang yang menghiasi langit, aku tertanya-tanya apakah ada ruang bahagia untuk hatiku saat ini? Atau aku hanya langit yang gelap, suram dan sunyi?’ puitisnya di dalam hati. Wildan mengerling ke arah adiknya sekilas. Selama hampir dua jam perjalanan mereka, Ainna hanya menjawab pertanyaannya sepatah dua saja dan tidak menunjukkan wajah yang ceria seperti selalu. Walaupun Ainna tidak menyuarakan duka...